Pengembangan teknologi kecerdasan buatan (ilustrasi) | Freepik/rawpixel

Iqtishodia

Ekonomi Perilaku, Eksperimental, dan Kecerdasan Buatan

Ekonomi eksperimental adalah cabang lain dari ekonomi yang menggunakan metode percobaan untuk memahami perilaku manusia.

 OLEH Prof Bambang Juanda, Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB

 

Dalam era globalisasi yang terus berkembang, pemahaman tentang perilaku manusia menjadi semakin penting dalam konteks perekonomian. Di tengah kompleksitas yang semakin meningkat, disiplin ilmu seperti ekonomi perilaku dan eksperimental, serta kecerdasan buatan (AI) menjadi kunci untuk mengungkapkan pola dan dinamika perilaku manusia dalam berbagai situasi ekonomi. Untuk memudahkan pembaca, penulis akan menguraikannya dari aspek yang paling sederhana dalam ekonomi konvensional sampai ekonomi eksperimental menggunakan kecerdasan buatan.

Dalam ekonomi konvensional (tradisional), para pelaku ekonomi (seperti konsumen, produsen, investor) diasumsikan bertindak rasional untuk memaksimalkan kepuasan (utilitas, profit, atau “nilai lain”) dengan memanfaatkan semua informasi yang tersedia dalam membuat keputusan yang paling menguntungkan bagi mereka. Beberapa kritikus mengatakan bahwa teori ekonomi seperti ini terlalu idealis dan tidak selalu mencerminkan perilaku sebenarnya dari pelaku ekonomi di dunia nyata.

Terkadang, pelaku ekonomi dapat membuat perkiraan yang tidak tepat, misalnya karena tidak memperhitungkan semua informasi yang tersedia, terutama dalam situasi di mana informasi tidak lengkap atau tidak dapat diakses dengan mudah.  Oleh karena itu, meskipun pelaku ekonomi berusaha bertindak rasional, namun terbatas (bounded rationality).  Rasionalitas terbatas ini menunjukkan bahwa konsumen dan bisnis memilih untuk memuaskan keinginan, bukan memaksimalkan keinginan.

photo
Berkarya dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (ilustrasi) - (Unsplash)

Ekonomi perilaku dan eksperimental
Ekonomi perilaku (behavioral economics) adalah bidang studi yang menggabungkan teori ekonomi dengan konsep psikologi dan ilmu sosial untuk memahami bagaimana individu membuat keputusan ekonomi. Kajian behavioral economics (BE) sebenarnya sama dengan traditional economics, tapi starting point kajian BE tanpa membuat asumsi apapun, langsung melihat bagaimana orang berperilaku di berbagai situasi, misalnya di laboratprium, di lapang; kemudian bagaimana konsekuensi dan implikasinya. Karena “tidak menggunakan asumsi rasionalitas” maka implikasinya sering sangat berbeda dengan traditional economics.

Salah satu aspek penting dari ekonomi perilaku adalah pemahaman tentang "bias" atau kecenderungan sistematis yang mengarah pada pengambilan keputusan yang tidak rasional atau berbeda dengan pemikiran umum dalam perspektif ekonomi konvensional.  Kecenderungan perilaku manusia melakukan systematic thinking error ini misalnya dalam perilaku Loss Aversion, Endowment Effect, Confirmation Bias, Herd Behavior, dan Survivor Bias.  Dengan memahami perilaku manusia yang sebenarnya, ekonomi perilaku dapat memberikan wawasan yang berharga untuk merancang kebijakan ekonomi yang lebih efektif.

Dalam kajian behavioral economics, seperti aplikasi nudge theory, sebaiknya menggunakan pendekatan eksperimen yang “valid”, baik kajian di laboratorium maupun di lapang. Sejak hadiah nobel ekonomi tahun 1994 diberikan kepada ekonom dalam bidang ekonomi eksperimental (experimental economics), banyak ilmuwan sosial menggunakan pendekatan eksperimental dalam analisis kajiannya supaya menghasilkan “causal inference” yang lebih baik lagi.

Ekonomi eksperimental adalah cabang lain dari ekonomi yang menggunakan metode percobaan untuk memahami perilaku manusia dalam lingkungan yang terkontrol. Dalam eksperimen ekonomi, para peneliti dapat menetapkan kondisi eksperimental yang memungkinkan mereka untuk menguji hipotesis dan mengukur respons individu atau kelompok terhadap stimulus tertentu. Hasil dari eksperimen ini dapat membantu kita memahami bagaimana orang bereaksi terhadap berbagai situasi ekonomi dan sosial.

Bidang ekonomi eksperimental juga mengkaji dan mengevaluasi kebijakan sebelum atau sesudah diimplementasikan.  Ilmu ekonomi eksperimental ini telah berkembang bersamaan dengan ilmu ekonomi perilaku karena masalah yang dikajinya juga hampir sama yaitu memasukkan aspek psikologi, emosi dan sosial (multidisiplin). Oleh karena itu, buku penulis yang mengkaji behavioral and experimental economics, diringkas judulnya menjadi “Ekonomi Eksperimental” saja.

Dalam tiap bab di buku penulis tersebut, setelah membahas hasil eksperimen dibahas juga pelajaran yang dapat dipetik untuk ekonomi perilaku dan juga implikasi kebijakan. Jadi, kajian ekonomi eksperimental sebenarnya kajian multidisiplin seperti yang dilakukan pemenang nobel ekonomi tahun 2019 dalam mengidentifikasi masalah kemiskinan di negara berkembang.  Pendekatan eksperimen juga perlu dilakukan untuk mengkaji fenomena yang sulit dan sensitif atau tidak mungkin diamati dengan metode konvensional, seperti tentang kepatuhan membayar pajak.

photo
Ilustrasi artificial intelligence - (Freepik)

Penggunaan perangkat lunak dan kecerdasan buatan
Untuk kajian makroekonomi yang relatif kompleks seperti “Dampak Kebijakan Penanganan Kasus Bank Bermasalah”, penulis menggunakan jaringan komputer yang dihubungkan dengan intranet. Instruksi atau petunjuk pelaksanaan eksperimen untuk para pelaku ekonomi tentu saja harus dibuat dalam suatu aplikasi, sehingga memudahkan tiap pelaku eksperimen memahami instruksinya dan melakukan simulasi eksperimennya dalam berinteraksi dengan pelaku eksperimen lainnya. 

Bahasa pemrograman (software) yang digunakan adalah PHP, Python, dan JavaScript. Untuk mudahnya, peneliti dapat meminta bantuan seorang ahli untuk membuat aplikasi suatu eksperimen.

Dalam simulasi eksperimen transaksi pasar dengan menggunakan komputer sebagai pelaku eksperimen (penjual dan pembeli), peneliti dapat bebas mengisi unit cost dan unit value sesuai tujuan kajiannya. Begitu juga bebas dalam menentukan jumlah penjual, jumlah pembeli dan jumlah ulangan dalam eksperimen tersebut.  Setelah aplikasi program tersebut dijalankan, akan diberikan hasil eksperimen dalam beberapa file yang berisi. Beberapa di antaranya adalah grafis supply, demand, dan keseimbangan pasar. Kemudian, ada juga grafis tawar menawar harga antara buyer dan seller (detail dengan ID pelaku).

Pengguna software dapat melihat perbedaan performa (keragaan) antara pasar monopoli dan pasar persaingan sempurna dalam hal surplus penjual, rata-rata harga transaksi, rata-rata jumlah transaksi, dan efisiensi pasar.  Kita dapat melihat sebagian besar perbedaan keragaan antara kedua pasar sesuai prediksi yang biasa diajarkan di teori ekonomi konvensional.

Hasil simulasi ini akan memberikan banyak inspirasi bagi dosen dalam pembelajaran di kelas dengan melibatkan mahasiswa dalam eksperimen sehingga mereka dapat mengeksploitasi pertanyaan mendasar, apakah hasil eksperimen  tersebut sesuai teori atau tidak. 

Kecerdasan buatan (AI) merupakan bidang ilmu interdisiplin dari Ilmu Komputer, Teknik Komputer dan Rekayasa Perangkat Lunak. Kecerdasan Buatan memiliki fokus utama dalam pengembangan sistem cerdas yang mampu meniru kemampuan kognitif manusia seperti melakukan pembelajaran, penyelesaian masalah, persepsi, dan pengambilan keputusan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan (AI) telah menjadi semakin penting dalam studi perilaku manusia. Dengan memanfaatkan teknologi AI, peneliti dapat menganalisis data besar (big data) tentang perilaku manusia untuk mengidentifikasi pola-pola yang mungkin tidak terlihat sebelumnya. Teknologi ini juga memungkinkan pengembangan model prediksi yang dapat membantu meramalkan perilaku manusia di masa depan, berdasarkan data historis yang dikumpulkan.

 
Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan menjadi semakin penting dalam studi perilaku manusia
 

Salah satu contoh penerapan teknologi kecerdasan buatan dalam ekonomi perilaku adalah membangun sistem komputasi dengan menggunakan Large Language Models (LLM) seperti GPT-3. LLM adalah model AI yang dilatih dengan data teks besar dan mampu menghasilkan teks yang mirip dengan tulisan manusia. Dengan menggunakan LLM, peneliti dapat menganalisis teks yang dikumpulkan dari media sosial, forum daring, dan sumber lainnya untuk memahami pola dan tren dalam perilaku manusia.

Namun, meskipun kemajuan teknologi telah membuka peluang baru dalam memahami perilaku manusia, masih ada berbagai tantangan yang harus dihadapi. Salah satu tantangan utama adalah privasi dan etika dalam penggunaan data manusia untuk tujuan penelitian. Selain itu, masih ada banyak pertanyaan tentang keandalan dan akurasi model AI dalam menganalisis perilaku manusia dengan tepat.

Dalam mengatasi tantangan ini, penting bagi para peneliti untuk bekerja sama lintas disiplin ilmu dan mempertimbangkan implikasi etika dari pekerjaan mereka. Pengembangan kerangka kerja etika yang kuat dan pedoman yang jelas tentang penggunaan data manusia dalam penelitian akan menjadi kunci untuk memastikan bahwa kemajuan dalam ekonomi perilaku dan kecerdasan buatan dapat bermanfaat bagi masyarakat secara luas.

Makalah hasil penelitian berjudul “Automated Social Science: Language Models as Scientist and Subjects” yang diterbitkan National Bureau of Economics Research pada tanggal 26 April 2024 cukup menjadi perhatian para akademisi di bidang ekonomi di Indonesia. Penggunaan LLM dalam teknologi AI tersebut menyajikan pendekatan secara otomatis untuk menghasilkan dan menguji hipotesis dalam ilmu sosial. Fitur utama dari pendekatan ini adalah penggunaan model kausal struktural. 

Model kausal struktural menyediakan bahasa untuk membuat hipotesis, panduan untuk membangun pelaku berbasis LLM, desain eksperimental, dan rencana analisis data. Dugaan model kausal struktural dapat digunakan untuk prediksi atau perencanaan eksperimen lanjutan. Meskipun judul penelitiannya sepertinya sangat luas (Ilmu Sosial Otomatis), tapi ilustrasi eksperimen dan beberapa skenarionya masih relatif sederhana,  

Model Bahasa besar (LLM) tersebut mampu memprediksi dengan baik dalam arah (positif atau negatif) dampak  yang diperkirakan, namun kurang baik dalam memprediksi besarnya perkiraan tersebut sehingga masih ada masalah validasi eksternal. Meskipun demikian, prediksi LLM akan meningkat secara signifikan jika model tersebut dapat disesuaikan dengan model kausal struktural yang cocok.

Dari penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa ekonomi perilaku, eksperimental, dan kecerdasan buatan merupakan bidang studi yang saling terkait dan saling melengkapi dalam usaha untuk memahami perilaku manusia dalam konteks perekonomian. Dengan terus mengembangkan metode dan teknologi yang lebih canggih, kita dapat memperoleh wawasan yang lebih dalam tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungannya dan membuat keputusan ekonomi yang kompleks.

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat