Pekerja merakit sepeda motor listrik Gesits di pabrik PT Wika Industri Manufaktur (WIMA), Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (27/10/2021). | ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Iqtishodia

Optimisme Sektor Industri Manufaktur Menghadapi Ketidakpastian Global

Depresiasi rupiah menyebabkan biaya impor lebih tinggi sehingga biaya produksi meningkat tajam.

OLEH Dian Verawati Panjaitan, Tanti Novianti, Sri Retno Wahyu Nugraheni (Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB)

Kondisi ketidakpastian ekonomi global ikut memengaruhi perekonomian domestik Indonesia melalui berbagai macam jalur. Salah satunya adalah dari pelemahan nilai tukar rupiah.

Pada periode Januari 2022-Maret 2024, nilai tukar rupiah tembus angka 15,000 terhadap dolar yaitu pada periode Oktober 2022-Maret 2023 dan Juli 2023-Maret 2024. Kondisi tersebut berdampak pada turunnya nilai ekspor-impor baik migas maupun non-migas. Penurunan nilai ekspor non-migas seiring dengan pelemahan ekonomi negara mitra dagang utama seperti AS, Cina, dan Jepang.

Sementara itu, penurunan impor dapat disebabkan oleh kondisi dunia usaha sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja dan rendahnya permintaan domestik. Hal ini terkonfirmasi dari menurunnya nilai Prompt Manufacturing Index (PMI) pada beberapa sektor industri utama. Sektor industri tersebut di antaranya adalah sektor  Industri Tekstil dan Pakaian Jadi yang nilai PMI nya menurun dari 55 (QIV-2022) menjadi 53.17 (Q1-2023).

Sektor lain yang juga menurun PMI-nya pada periode yang sama adalah industri kayu, barang dari kayu, gabus dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya, industri kimia, farmasi dan obat tradisional, industri barang galian bukan logam, dan industri furnitur. Semua industri tersebut membutuhkan andalan ekspor Indonesia yang bahan bakunya diperoleh dari impor.

Adanya depresiasi rupiah menyebabkan biaya impor lebih tinggi sehingga biaya produksi meningkat tajam. Bagi industri yang tidak efisien dan tidak berdaya saing, peningkatan biaya produksi akan menurunkan volume produksi secara signifikan. 

photo
Perkembangan nilai tukar, ekspor, dan impor Indonesia - (IPB)

Di sisi yang lain, perkembangan dunia usaha berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional karena lebih dari 18 persen PDB disumbang oleh sektor industri pengolahan. Sektor tersebut sensitif terhadap perubahan nilai tukar.

Pada saat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terdepresiasi hingga diatas level Rp 15.000, pertumbuhan PDB industri pengolahan mengalami penurunan dari 5,20 persen (Q3-2023) menjadi 4,07 persen (Q4-2023). Penurunan ini dipicu oleh kondisi dunia usaha yang sedang kontraksi, terlihat dari nilai PMI yang turun dari 52.93 menjadi 51.20.

PMI ini merupakan indeks dan leading indicator bagi kegiatan perekonomian suatu negara yang dibuat melalui tahapan survei terhadap puchasing manager berbagai sektor bisnis yang ada. Indeks ini dikeluarkan oleh Bank Indonesia untuk menunjukkan keyakinan bisnis para manajer. Indeks ini dihitung dari lima komponen yaitu  volume pesanan barang input, volume produksi (output), ketenagakerjaan, waktu pengiriman dari pemasok, dan inventori.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pertumbuhan industri manufaktur juga dipengaruhi oleh permintaan dari negara mitra. Adanya ketidakpastian global karena naiknya tensi geopolitik memicu ekonomi dunia juga melemah sehingga permintaan terhadap barang andalan ekspor Indonesia juga menurun.

Walaupun demikian, kita tetap harus optimis bahwa sektor industri akan tetap tumbuh dengan masih adanya kepercayaan pelaku pasar. Hal ini tercermin dari nilai PMI yang diproyeksi meningkat pada Q2-2024 menjadi 54.31 dari yang sebelumnya hanya 52.80 (Q1-2024).

Kondisi tersebut sejalan dengan hasil survei dari S&P Global yang menunjukkan bahwa capaian Purchasing Managers’ Index Indonesia sebesar 52.7 yang lebih tinggi dari China (50,9), Jepang (47,2), dan Amerika Serikat (51,5) pada Q2-2024. Negara-negara tersebut merupakan negara mitra dagang Indonesia yang industrinya tetap tumbuh ditengah ketidakpastian ekonomi global. 

photo
Peran industri pengolahan - (IPB)

Jika dilihat pada kacamata yang lebih luas lagi dalam lingkup ASEAN, manufaktur telah menjadi pijakan yang kuat sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi di kawasan ini. Tren pertumbuhan yang cepat dan stabil selama bertahun-tahun dalam industri manufaktur di ASEAN menegaskan status kawasan ini sebagai pemain penting dalam rantai pasokan global.

Menurut Boston Consulting Group (2021), ekspor manufaktur ASEAN unggul dalam rata-rata pertumbuhan tahunan global dengan pertumbuhan sebesar 5 persen dari tahun 2015 hingga 2019, dengan pertumbuhan tahunan rata-rata global sebesar 3 persen. Oleh karena itu, landasan manufaktur yang kuat di masing-masing negara ASEAN dan ditambah dengan produk manufaktur masing-masing negara yang berbeda telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap PDB negara tersebut.

Sementara itu, tren manufacturing value added (MVA) di ASEAN menunjukkan pertumbuhan yang stabil dan positif selama periode pengamatan dari tahun 2011 hingga tahun 2021. Negara-negara anggota ASEAN telah menunjukkan kondisi yang cukup stabil meskipun terjadi guncangan pandemi Covid-19 di tahun 2020 yang menyiratkan landasan industri yang kuat sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada sektor lain.

Namun demikian, jika dilihat nilai MVA Indonesia selama periode tersebut memiliki nilai yang semakin menurun. Dengan demikian diperlukan kebijakan-kebijakan strategis dari pemerintah yang adaptif, responsif dan kolaboratif yang terintegrasi untuk menjaga bahkan meningkatkan performa sektor industri manufaktur.

Indonesia harus fokus pada pengembangan kebijakan yang menekankan pada peningkatan keterampilan pekerja dan pemuda dengan menyiapkan infrastruktur yang diperlukan, sehingga berdampak pada peningkatan produktivitas tenaga kerja. Dengan tenaga kerja yang terampil, perusahaan dapat meningkatkan produktivitasnya dengan biaya yang lebih rendah dan efisiensi yang lebih besar melalui investasi modal tenaga kerja.

Perusahaan juga dapat menaikkan upah pekerja terampil di bidang manufaktur untuk menarik lebih banyak pekerja yang memiliki keterampilan dan produktivitas yang lebih baik.

 

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat